Kalau
kita hanya mengambil video atas gambar dan suara dari sebuah pemandangan
ataupun acara, kita ga memerlukan skrip ataupun storyboard. Tapi setidaknya
kita harus punya ide juga, tentang apa yang akan kita rekam di dalam video,
walaupun itu hanya daftar pengambilan gambar dan suara yang simpel banget. Coba
aj ambil beberapa gambar dan suara dari berbagai variasi angel dan jarak.
Sudah
siap buat ambil gambar dan suara?? Pastinya, kalau anda sudah mengikuti Langkah Dasar Membuat Video untuk Film Keren anda pt.1. Sekarang kita perlu menyiapkan
setiap ambilan scene video dengan baik. Kita perlu memindahkan kamera ke
beberapa posisi buat framing, pencahayaan dan latarnya.
- · Cek framingnya, pastikan jangan memotong sesuatu yang penting dan jangan juga sampai memasukan sesuatu yang tidak penting nanti bisa jadi gangguan/distraction terhadap objek utama di dalam frame.
- · Cek cahaya, liat di dalam viewfinder atau screen kamera. Apakah pencahayaannya baik-baik saja?apa terlihat terlalu gelap atau terang? Atau ada flickr?. Sambil di seting aj exposure kameranya.
- · Cek focus, apa focusnya sudah pas pada tempat yang kita inginkan atau apakah ini merupakan part yang tidak menggunakan focus?? Cek lagi dan lagi ya, sesuaikan dengan treatment.
- · Cek suara, coba minta semua crew diam, lalu dengarkan sejenak dan mungkin anda bisa coba merekam suara sekitar, lalu mendengarkan hasilnya. Ada suara apa?? angin?? Mobil lalu lalang?? atau suara cewek nangis?? Apakah scene ini memperbolehkan ada suara semacam itu masuk kedalamnya?? Jika tidak, coba pikirin apa ada yang bisa dilakukan untuk menetralisir suara itu.
- · Cek crew, pastikan semua crew siap dan katakan “standby!” atau bilang aja “siap!”
- · Coverage, liat cakupanya dari story board, treatment, dan script. Maksudnya pastiin kita ngedapetin shots yang sempurna buat tiap scene. Walaupun sempurna Cuma milik andria dan tulang punggung, tp dengan mengusahakan sempurna kita akan mendapatkan hasil yang terbaik dari yang kita bisa buat. Jadi ga perlu ada keanehan dan gap sewaktu editing, seringnya sih ada… hahaha. Makanya kita perlu antisipasi dengan membuat cover plan.
Dalam
pengambilan gambar untuk sesuatu yang factual, kita bisa menggunakan aturan
jempol. Coba letakan jempol di depan lensa dan lihat dari viewfinder. Apakah
jempol sudah focus, lihat kerutan kukunya, framing dan angle. Apa terasa pas
sesuai keinginan kita atau janggal?
Maksudnya
jika kita melakukan pengambilan untuk sesorang yang sedang melakukan sesuatu,
rekam beberapa ambilan dengan long shots atau very long shots untuk mengetahui
setingan kamera kita. Kemudian pastikan kita mendapatkan apa yang kita inginkan
dalam shot itu, orangnya, barangnya, dan orang beserta barang yang dia pegang.
Pokoknya selalu ambil beberapa shots dari apa yang sudah kita pikirkan, agar
bisa menjadi penyelamat ketika terjadi keanehan atau gap saat editing (cover
plan).
Kita
juga bisa mengambil mastershot untuk lebih amanya, ambil gambar dengan long
shots atau very long shots hingga peralatan yang seharusnya tidak masuk
framing. Jadi kalau ada keanehan atau gaps kita, bisa mengunakan ini sebagai
cover terakhir, dengan crop bagian yang tidak di perlukan. (jarang MD lakuin
sih, dan ini disebut super cover plan).
Kalo
buat acara live kita perlu dua kamera, 1 kamera untuk static shots di atas
tripod, satunya lagi yang kita bawa ke objek utama acara live. Jika kita
merekam dialog antara 2 orang atau lebih, gunakan lebih dari satu kamera namun
berbeda dengan acara live. 2 kamera untuk merekam acara dialog tidak
menggunakan static shoot tapi hanya semi static shoot. ceritanya lebih panjang
untuk membuat mastershots, dialog dari tiap orang harus direkam secara terpisah
namun direkam dengan semua kamera secara bersamaan. Agar saat editing semuanya
bisa nyatu, ingat aturan continuitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar